Ada kesalahan di dalam gadget ini

Rabu, 25 Januari 2012

Stensil Tempo Doeloe: PERAWAN BETAWI



Siapa tak kenal Jakarta? Jawabnya pasti rakyat Indonesia mengenalnya karena Jakarta adalah ibukota Negara. Tapi siapa tak kenal Betawi? Jawabnya pasti tidak semua rakyat Indoensia mengenal Betawi. Betawi adalah penduduk asli Jakarta. Namun sekalai pun mereka penduduk asli Jakarta tapi kehidupannya berada di pinggiran wilayah Jakarta. Tempat bemukim orang-orang Jakarta mayoritas berada di: Condet, Depok, Pondok Gede dan Bekasi.
Namun tidak bisa dipungkiri gadis-gadis Betawi rata-rata berkulit mulus dan cantik. Secara fisik berada diposisi rata-rata tetapi dari segi bahasa rata-rata “kurang baik”. Pembicaraannya ceplas-ceplos, spontan tanpa tending aling-aling, bahkan cenderung menyinggung perasaan bagi yang tidak biasa mendengarnya. Tapi dengan cara itulah rasanya pembicaraan selalu cair, tidak ada yang beku, kaku atau formal. Bagi aku sendiri justru itu kusuka. Begitu juga dalam hal menaksir wanita, sekalipun tidak nembak secara langsung, dengan isyarat tubuhnya sudah dapat terbaca bahwa kami sama-sama saling cinta.
 Alkisah hari ini 25 tahun yang lalu. Hiduplah seorang mahasiswa semester 5 yang sedang jatuh cinta kepada gadis SMP. Mahasiswa tersebut usianya kurang lebih 22 tahun sedangkan si gadis usia sekitar 13 tahun. Gadis betawi ini sekalipun usianya baru 13 tahun tapi secara fisik ia sudah dewasa sekali. Tinggi badannya 170 cm, berat badannya 50 kg dan bra-nya berukuran 3A. Jadi bukan seperti anak SMP lagi, apalagi manakala si gadis berpakaian bebas.

Sekalipun pakaian yang dikenakan sangat sederhana tidak mengurangi kecantikannya dengan tubuh semampainya. Sebaliknya si mahasiswa itu sekalipun usianya sudah cukup dewasa tetapi pembawaannya kekanak-kanakan, seperti anak ABG. Secara fisik juga bukan menampilkan sebagai cowok idaman wanita. Si mahasiswa itu memiliki tinggi badan 165 cm, berat badan 49 kg sedangkan ukuran rudalnya, panjangnya kurang lebih 10 cm dengan diameter 3,5 cm. Jika menggunakan celana jins karet terlihat sekali tonjolan di selangkangannya. Apalagi jika rudal itu dalam keadaan hidup setelah membaca atau menonton film porna kelihatan sekali besarnya.
Tanpa disadarinya karena sudah merupakan kebiasannya bahwa dibalik resetingnya itu justru menjadi perhatian para wanita. Dengan fantasinya sendiri para wanita itu selalu membayangkan seberapa besar rudal yang dimiliki si mahasiswa itu. Salah satu yang memiliki rasa ingin tahu yang tinggi itu adalah, gadis SMP itu, kita sebut saja dia Wulan.
Secara fisik si mahasiswa itu memang biasa saja, tidak ada yang luar biasa. Yang terasa istimewa justru rudalnya yang besar itu. Itulah yang membuat penasaran gadis-gadis dikala itu. Tentu saja untuk mengetahui lebih jauh menganai itunya, harus ada pendekatan hati dulu. Di sisi lain sang mahasiswa itu sendiri selalu mengidentikan bahwa dirinya adalah seorang playboy. Dan ia selalu berangan-angan bahwa darinya adalah seorang James Bond, Agen rahasia 007 yang selalu dikelilingi wanita-wanita cantik.
Tipenya seakan pria yang setia, karena orangnya sangat perhatian. Jika sudah berdua dengan wanita, seakan-akan dialah wanita satu-satunya yang ada di hatinya. Dan si wanita tersebut percaya bahwa cowok yang ada disampingnya adalah tipe cowok yang setia. Tuten, kita sebut saja itu namanya. Orangnya pendiam tapi lucu. Sekalipun postur tubuhnya kecil tapi sungguh dia adalah seorang olahragawan yang serba bisa. Dan fisiknya pun sudah terkenal tangguh. Ia mampu berlari 10 Km dan beberapa kali ikut sebagai peserta marathon dengan jarank tempuh 42 Km. Bulutangkis, Basket, Voli, tenis meja, Sepak Bola, bilyar sampai catur ia kuasai semuanya.

Saat matahari terik di siang itu, suasana Bekasi yang belum terlalu ramai seperti sekarang ini pergilah Tuten dan Wulan ke ladang. Tanah ladang itu adalah milik TNI tetapi warga sekitarnya boleh menggunakannya untuk sekedar berladang menanam: singkong, jagung umbian-umbian atau kacang-kacangan. Di tempat itu memang sunyi, tidak semua orang berani masuk ke tanah yang dikuasai oleh TNI itu. Dengan suasana tenang itu Tuten dan Wulan sempat bersama-sama menikmati indahnya dunia bahkan surge dunia. Sekalipun tidak ada kata yang terucap siapa nembak siapa, tapi hati, pandangan mata dan isyarat tubuh sudah selaras bahwa mereka saling jatuh cinta.
Tanpa harus mengeluarkan kata-kata, Tuten memeluk Wulan dengan hangatnya. Wulan pun tidak kalah erat memeluk Tuten. Mereka berpelukan seakan tidak ingin saling melepaskan. Setelah lama berpelukan tangan Tuten secara berlahan mengangkat rok panjang yang dikenakan Wulan, hingga akhirnya tuten dapat meremas bokong Wulan secara leluasa. Ia remas-remas pantat Wulan sementara mulutnya dengan lembut menciummi pipinya dan bibirnya. Tangan kanan dan tangan kiri Tuten dengan gemas meremas-remas pantat Wulan, dan secara berlahan celana dalam Wulan ia pelorotkan. Sehingga tangan Tuten kini dapat menyentuh bulu-bulu lembut di selangkaan Wulan. Tuten dengan berlahan tapi pasti mulai mendorong jemari tengahnya ke lubang vagina Wulan, “Auw” Wulan sedikit berteriak dan mendesih. Tuten sangat percaya Wulan masih perawan. Maka ia harus dapat bermain halus.
Mulut Tuten setelah puas melumat bibir Wulan, kini ia beralih ke leher yang jenjang milik Wulan. Tak lama bermain di leher selanjutnya semakin turun hingga akhirnya sampailah ke bukit milik Wulan yang tidak terlalu besar tapi kencang. Ia ciumi buah dada sang perawan yang masih kencang ini, halus, segar dan menggairahkan. Namun Wulan pun ternyata tidak tinggal diam, ia mulai berani mengelus rudal milik Tuten yang telah menegang. Dan Tuten pun mulai membantu tangan Wulan untuk membukakan sabuk celana dan menurunkannya ke bawah, sehingga Wulan kini dapat menggenggam kemaluan Tuten  dengan tangannya. Tangan Wulan mengocok-ngocok batang zakar Tuten dan Tuten merasakan nikmat yang amat sangat selain diapun dapat menikmati seluruh tubuh Wulan dengan leluasa.
Mereka pun menghentikan permainan sejenak untuk mencari tempat yang nyaman. Akhirnya Wulan pun dibaringkan oleh Tuten di bale-bale kubuk kebun singkong. Kedua pahanya telah dikangkangkan oleh Wulan maka secara pasti Tuten pun memasukkan penisnya ke vagina Wulan. Wulan kelihatannya telah siap menerima hujaman rudal milik Tuten, tidak ada rasa sakit ataupun menjerit keluar dari mulutnya. Justru ia menahan nikmat yang amat sangat dengan menggigit bibirnya sendiri sambil memejamkan mata. Begitupun Tuten memejamkan mata untuk menikmati surga dunia yang sedang dirasakan oleh 2 makhluk manusia ini.
Tuten melepaskan nafas aaahh uuuhhh, aaahhh uuuhhh …. Ketika rudalnya menembus memek Wulan yang masih perawan. Sementara Wulan pun mendesah dengan mengeluarkan esssst aahhh, eesssstt aaahhh, “sakit … saaaakit, pelan-pelan sayang …. Aaahhh, pelan-pelan sayang,” ucapnya sambil merasakan nikmat. Tuten pun mengerti atas keluhan Wulan yang merasakan sakit karena masih perawan. Dengan berlahan Tuten menekan kemudian mengangkat kembali, menekan dengan tidak terlalu dalam dan mengangkat kembali. Hal ini terus berlangsung kurang lebih 5 menit, untuk selanjutnya secara reflek justru Wulan sendiri yang aktif mendorong, naik turun. Tuten dalam posisi pasif, ia hanya menikmati goyangan yang dilakukan Wulan. Hingga akhirnya Tuten berkata, “Sayang aku sudah mau keluar, aaahhh,: ujarnya sambil menahan untuk sedapat mungkin tidak ejakulasi.
“Cabutnya ya sayang jika mau keluar,” pinta Wulan.
Namun belum lama Wulan berucap itu, Tuten pun mengeluarkan maninya di dalam vagina Wulan; cret … cret … cret!!! Tak tahan Tuten merasakan nikmatnya memek perawan. Wulan merasakan nikmatnya  atas semburan lahar dari penis Tuten. Lama mereka berpelukan di atas bale gubuk di kebon singkong itu. Setelah puas menindih Wulan, Tuten mencabut  batang zakarnya dari memek Wulan yang masih seret ini  berlahan-lahan. Wulan dengan sedikit menyesal berkata pada Tuten, “Mengapa Abang tidak mencabutnya saat mau keluar bang.”
“Maaf sayang Abang tidak tahan menahan kenikmatan yang kamu berikan, Abang tidak tahan untuk mencabutnya,” jawab Tuten sambil mengelap batang kamaluannya yang sudah mengendur. Dan Wulan sendiri dengan seksama ia memperhatikan memeknya yang telah robek kemerawannya oleh batang zakar tuten yang besar.
“Nanti bagaimana kalau saya hamil,” ujar Wulan lirih sambil mengelap-ngelap darah perawan yang ada diselengkahannya.
“Jangan khawatir sayang, kita baru pertama melakukan. Belum tentu satu kali berhubungan langsung hamil,” ucap Tuten menenangkan.
“Kalau pun saya hamil Abang akan bertanggung jawab kan,” pinta Wulan.
“Oh pasti, Abang akan bertanggung jawab. Tapi Abang yakin kamu tidak akan hamil. Cuma untuk lain kali sebaiknya kita pake kondom aja atau minum pil, ya?”
“Iya Bang!”.

Persenggamaan yang pertama antara Tuten dan Wulan rasanya ingin terus berlangsung tiap hari. Tapi apa lacur hal itu tidak mungkin. Sekalipun rumah mereka berdekatan tapi tempat dan waktu yang tepat untuk berkencan tidak ada. Di rumah Wulan tidak pernah kosong, di rumah Tuten juga sama. Ibu, ayah adik selalu bergantian sepanjang hari ada di rumah. Untuk pergi ke hotel tidak mungkin karena kantong mereka tipis. Yang paling mungkin hanya di kebun singkong itulah mereka bisa melakukannya, tapi itu pun harus dalam suasana yang tepat. Namun sekalipun untuk berhubungan intim mereka sulit mencari tempat, tapi jika sekedar ciuman dan saling meremas-remas  buah dada dan batang zakar selalu ada waktu untuk kesampaian.

Dan ternyata petualangan Tuten  tidak hanya dengan Wulan. Ia pun tengah menjalin hubungan dengan seorang perawat gigi. Ia adalah seorang asisten dokter gigi disebuah poliklinik, Nunu namanya. Tuten dan Nunu saling kenal saat Tuten periksa gigi. Karena dokternya belum datang, maka ngobrollah mereka berdua dengan akrab. Ketika pertama kali mereka ketemu rupanya mereka sama-sama member sinyal positif. Nunu sendiri terlihat seksi dengan dandanannya yang serba putih. Roknya cukup seksi dan terlihat mulus memancarkan pesona bagi seorang laki-laki. Sementara buah dada Nunu pun selalu dalam keadaan, kancing terbuka  atasnya. Tuten sering meliriknya kearah buah dada Nunu. Sebaliknya Nunu pun selalu memperhatikan dan membayangkan batang zakar yang ada dibalik celana Tuten. Tuten memang saat itu senang sekali menggunakan celana levis yang ketat. Dan levisnya pun levis jenis karet, sehingga betul-betul ngepres dan membentuk batang zakar yang ada. Hal ini sering dipamerkan secara tidak langsung manakala sedang berduan dengan seorang wanita. Sebaliknya jika sedang rame Tuten selalu menutupinya dengan bajunya yang gedombrang.
Tidak memerlukan waktu lama bagi Tuten untuk dapat meniduri Nuru. Cukup dalam tiga kali pertemuan obrol-obrol. Kali keempat pertemuan, dengan memperhatikan situasi di Poliklink Tuten dapat membuat janji dengan Nunu. Dokter mulai praktek pukul 16.30, sementara pukul 15.00 Nunu sudah mulai beres-beres dan menyiapkan segala sesuatunya. Karena Tuten akan datang pukul 14.00 maka Nunu pun sudah berada di sana saat itu. Ketika sudah berada di Poliklinik dengan datang diam-diam Tuten hadir dengan mengagetkan Nunu, ia bekap mulut Nunu dan matanya dari arah belakang. Dengan sedikit kaget dan cepat sadar Nunu tahu siapa yang melakukan ini. Ia pasrah saja bahkan dengan nyamannya ia menyadarkan tubuhnya ke pundak Tuten. Melihat Nunu telah pasrah maka Tuten pun tidak ragu-ragu untuk meremas buah dada Nunu sekaligus melumat bibirnya. Ia sedot habis bibir Nunu, lidahnya ia keluarkan untuk dilumat Nunu. Nunu pun bak sudah mahir mengulum lidah Tuten, bahkan ingin menggigitnya. Tuten membiarkan perbuatan Nunu, sementara ia pun mulai  menyikap rok putih Nunu. Ia remas-remas kemalauan Nunu, ia remas bokong Nunu, punggung Nunu, tangan tuten menjelajah semua tubuh Nunu. Tuten dengan gemas menciumi sekujur tubuh Nunu. Dan Nunu sangat menikmati berahi yang ada pada Tuten. Nunu menggeliat dan mendesah. Baju Nunu dibuatnya kusut dan Tuten pun ingin segera  mencapai puncak kenikmatan. Ia buka jelananya sendiri yang kemudian dibantu Nunu dan Tuten pun dengan lincahnya memprosoti celana dalam Nunu sementara baju suster Nunu cukup disibaknya. Sebelum Tuten memasukan batang kemaluannya ke vagina Nunu, Nunu terlebih dahulu meremas-remasnya kemudian mengocok-ngocok dengan tangannya. Hal ini untuk memastikan seberapa besar rudal yang dimiliki Tuten. Dan ketika Nunu menyadarinya benar bahwa kontol Tuten memang sangat besar dan panjang. Dengan satu tangan saja tidak cukup, dua tanganpun masih lebih sekitar 3 cm. Nunu sedikit mendesah dengan mengguman woooow. Tapi puncak birahi Nunu telah tiba sehingga dia ingin segera dihujam oleh rudal Tuten.
Nunu mengambil posisi di atas meja dokter. Kedua kakinya telah terbuka siap menerima pendaratan rudal Tuten. Nunu menuntunnya dengan tangan  kanan. Dan Tuten pun mengikuti apa yang Nunu mau lakukan. Nunu menggesek-gesekan kemaluan Tuten di bibir vaginanya. Dan itu sudah dirasakan nikmat oleh Tuten dan Nunu sendiri. Secara berlahan dia menuntunnya di lubang yang telah berlender. Tuten mendorongnya sedikit, sangat berlahan karena Tuten tahu Nunu masih perawan. Sangat berlahan di dorong, baru kepalanya saja yang masuk ditahan oleh Nunu sejenak. Kemudian di dorong lagi berlahan, ditahan sejenak untuk member kesempatan pada Nunu menarik nafas. Di dorong lagi dan kini setengahnya kontol Tuten telah masuk. Ia tidak ingin terburu-buru memasukan seluruhnya. Dicabut dan didorong main setengah tiang. Nunu sangat merasakan nikmat yang amat sangat dengan permainan yang Tuten berikan. Ketika Nunu mendesak, “…. oooohh Kaka nikmat sekali kaka … ooohhhh,” rintih Nunu. Dan untuk memperoleh kenikmatan yang lebih Tuten mendorong seluruh rudalnya memasuki lubang yang masih perawan. Dan di saat itulah darah perawan Nunu keluar tapi Nunu tidak merasakan sakit karena memeknya telah berlendir dengan cukup, hanya nikmat yang dirasakan Nunu.
Kini tangan Nunu melingkar di leher Tuten, sementara Tuten semakin mantap menggoyang-goyangkan batang zakarnya. Tutennya merasakan nikmat yang luar biasa, “… ooohhh Nunu sungguh nikmat Nunu lubang kamu.”
“Iyalah Ka, keperawanan Nunu, Nunu berikan untuk kaka. Karena Nunu sayang sama Kaka,” ujar Nunu.
“Terima kasih sayang,” balas Tuten sambil mencabut kemaluannya dari lubang surga milik Nunu ini. Dan Tuten berpaling dengan mengambil posisi di kursi periksa gigi. Tuten telentang dikursi itu. Dan Nunu mengerti apa yang dimau Tuten. Nunu pun naik di atasnya, batang kontol Tuten Nunu tuntun untuk masuk kelubangnya. Nunu dengan tenang memasukan batang zakar Tuten yang besar itu ke lubang vaginanya, dan dengan santainya ia menggoyang-goyangnya naik turun, sehingga terasa leeeep, leeeeep, leeeep …. mata Nunu terpejam menikmatinya. Sementara Tuten sendiri matanya hanya tertuju pada wajah Nunu. Tuten menyaksikan secara seksama ekspresi yang diperlihatkan Nunu dalam menikmati persenggamaan ini. Melihat ekspresi Nunu, Tuten sangat menikmatinya. Wajah Nunu yang cantik sungguh memberi kenikmatan tersendiri dalam memandangnya. Ia terlihat sering menggigit bibir dalam menahan kenikmatan, dan tak kalah serunya adalah rintihannya dengan suara … uuuh aaaaah, …uuuuh aaaah, nyeeee…. ooooh sayang …. Nikmat sekali sayang, tahan sayang yaaa jangan muncrat dulu yaaa, pintanya.
Tuten dengan sekuat tenaga menahan agar maninya tidak cepat keluar. Dan jika mau muncrat, pantat Nunu Tuten tahan agar berhenti sejenak menahan goyangannya. Setelah Tuten menarik nafas dalam-dalam Tuten melepas pegangan ke pinggul Nunu, dan Nunu sangat mengerti bahwa dia boleh menggoyangnya lagi. Nunu secara bervariasi member kenikmatan pada Tuten. Kadang ia menggoyangnya dengan naik turun dan kadang kala juga maju mundur. Dan diselingi pula dengan memutar-mutar.
Kedua insan sungguh menikmatinya. Kenikmatan yang luar biasa mereka rasakan. Darah perawan Nunu keluar hanya sedikit dan itu sudah tidak dirasakan sakit lagi. Sementara Tuten sangat merasakan cengkraman dari memek perawan Nunu.
Tuten hanya mampu bertahan 20 menit, setelah itu ia tidak kuat lagi aa aa aa aa …. Sayang aa aa sayang … teriak Tuten. Nunu segera menarik memek yang dari tadi mencengkram batang kemaluan Tuten, hingga cret … cret …. Cret. Cairan mani kental menembak dengan kencang. Nunu mengusap-ngusap kemaluan Tuten yang telah memberi kenikmatan. Dan ia mengambil tissue untuk mengelapnya.
Setelah keduanya puas dalam mereguh kenikmatan, keduanya sibuk beres-beres, merapihkan dan mengenakan pakaiannya masing-masing. Jam telah menunjukan pukul 15.30, sebentar lagi akan ada pasien yang antri untuk periksa gigi. Tuten segera pamit dan ia keluar dari pintu belakang, sementara beberapa pasien telah menunggu. Dan tak lama kemudian dokter datang. Nunu tidak menyangka dokter datang secepat ini. Biasanya ia datang tepat pukul 16.30.
Dokter langsung masuk ke ruangannya. Ia periksa-periksa perlengkapan kerjanya.

3 komentar:

  1. terima kasih untuk eyang pess yang telah maembantu saya karna eyang saya bisa beli mobil dan punya usaha sendiri skali lagi saya ucapkan terima kasih banyak buat eyang PESSA ATAS BANTUAN ANGKA GOIB/JITU SAYA SUDAH MENANG3KALI DAN PESAN EYANG AKAN SAYA INGAT SLALU, buat teman2 yang mau mencoba silahkan hubungi eyang PESSA INI NO 082313367336 DIJAMIN PASTI TEMBUS100% INI SUDAH TERBUKTI KEPADA KAMI SEKELUARGA SILAHKAN ANDA BUKTIKAN..........TERIMA KASIH.........FROM SUCIPTO/PENGAMEN SUKSES

    BalasHapus

  2. =================

    FOTO-VIDEO HOT TERBARU
    =================


    JANDA PAMER MEMEK


    NGINTIP JANDA MANDI

    DIPERKOSA 50X

    KAKEK NGENTOT ABG


    MAHASISWI MAKASAR

    NGENTOT ANAK SMP


    TANTE GIRANG JAKARTA


    ++++++ +++++ ++ ++ ++ ++ ++ ++ ++ ++ +++
    ++ ++ ++ +++ ++ ++ ++ ++ ++ ++ ++ ++ ++
    ++ +++++ ++ +++ +++++ ++ ++ ++ ++ ++

    BalasHapus