Rabu, 14 Desember 2011

Artikel: Menikmati Hidup Tanpa Syarat



Oleh: Yusnadi

Tersebutlah kisah dua orang karyawan/ti di suatu perusahaan, kita sebut saja yang satu bernama Mila dan yang satu  bernama Ali. Mila dan Ali memiliki latar belakang yang berbeda. Mila berasal dari kalangan menengah yang berkecukupan sedangkan Ali berasal dari latar belakang orang tua yang kurang mampu dan hidup dengan dasar agama yang kuat.
Menurut cerita Mila salah satu kesan yang tidak bisa dilupakan dalam hidupnya sampai saat ini adalah,  ketika dirinya diolok-olok oleh teman-temannya. Ketika itu teman-teman sebayanya terutama yang pria selalu mengolok-olok dengan mengatakan, "Mila gendut, Mila gendut." Bahkan dirinya sering dijadikan bahan taruhan, siapa kalah maka dia mendapatkan Mila. Adalah satu hal yang sangat memalukan bila teman-teman prianya "dijodoh-jodohkan" dengan Mila gendut. Ketika itu usia Mila baru 9 tahun dan duduk di kelas 4 SD.
Namun 20 tahun telah berlalu, Mila kini sudah menjadi wanita dewasa yang mandiri. Tubuhnya tidak lagi gendut, bahkan semenjak duduk di bangku SMA dia justru menjadi macan (manis dan cantik) gadis idaman para pria di sekolahnya. Dalam konsep hidup Mila yang saat ini berstatus sebagai karyawati di sebuah perusahaan,  sangat percaya  bahwa hidup dirinya harus menyenangkan, saat ini maupun masa mendatang. Ia terobsesi bahwa hidup itu harus dinikmati, jangan sampai terjadi lagi hidup diolok-olok seperti di masa kecil. Yang lalu biarlah berlalu, hari ini harus dijalankan dengan sebaik-baiknya karena hari  ini pun kelak akan menjadi kenangan.
Mila selalu mengibaratkan hidup haruslah bagaikan burung yang selalu bernyanyi, dan hidup harus bebas merdeka. Ia tidak ingin kebebasannya hilang, dan ia tidak ingin segala yang dihadapi dalam tugas menjadikan dirinya tidak lagi setia terhadap suami. Ia selalu ingin memberikan senyum terbaiknya untuk suami dan anak-anaknya. "Di tempat kerja mungkin kita capai dan lelah tapi jangan sampai terabaikan memberikan senyum untuk suami," demikian ujarnya penuh romantis.
Dan hidup Mila, untuk saat ini serta selamanya ingin tetap menebar senyum. Sekalipun kehidupan mungkin seringkali mengganggu ketenangan kita. Musibah kecil, musibah besar akan selalu datang dan pergi dalam perjalanan hidup, namun yang terpenting adalah jangan terpaku pada apa yang menimpa  tetapi  bagaimana cara kita dalam menyikapi dengan lebih nyeni dan dapat mengartikannya, demikian pendapat Mila.

Sementara Ali yang bekerja di bagian Engeneering menuturkan latar belakangnya bahwa, ia berasal dari keluarga yang taat beragama. Dirinya dididik di lingkungan pesantren,  orang tuanya sangat mementingkan akan arti pentingnya pendidikan agama. Masih terngiang dalam ingatan Ali ketika orang tuanya berpesan, "Jika bekerja jangan seperti kerbau, kambing, ayam jago dan burung." Karena menurutnya, kerbau dalam hidupnya hanya memiliki sifat, "kerja, makan, tidur----kerja makan tidur saja." Dan kambing dalam hidupnya memiliki sifat, "kerja sambil makan, tidur sambil makan bahkan (maaf) kawinpun sambil makan. Sedangkan ayam jago dalam hidupnya memiliki sifat cari makan hanya untuk menaklukan sang betina. Ayam jago selalu berusaha mencari makan tetapi jika sudah dapat maka akan diberikan kepada sang betina dan dikawininya. Sementara sifat yang dimiliki burung dalam pencarian nafkahnya selalu bertujuan hura-hura. "Pagi, siang, malam sang burung akan selalu berkicau," demikian pesan orang tua Ali. 
Sementara perjalanan hidup Ali sendiri membawa nasib kesebuah kehidupan  sosial yang berstatus  sebagai karyawan, bukan sebagai seorang dai sebagaimana harapan orang tua. Namun Ali bahagia dengan kehidupan saat ini, karena Ali beranggapan bahwa:
1.    Kerja adalah kehormatan,  dengan bekerja harkat dan martabatnya naik beberapa derajat daripada jika tidak bekerja.
2.    Kerja adalah aktualisasi diri, dengan bekerja Ali merasa  mendapat pengakuan bahwa tenaganya dibutuhkan dan Ali dapat memberikan sesuatu dalam mengisi kehidupannya.
3.    Kerja adalah rahmat,  dengan rahmat itulah Tuhan memberi sesuatu  dan kita harus menerimanya dengan ikhlas.
4.    Kerja adalah panggilan, dengan konsep itu maka tanpa ada yang memerintahpun kita sudah menyadarii bahwa kerja apa pun adalah suatu tanggung jawab diri terhadap lingkungan dan  Tuhan.
5.    Kerja adalah amanah, dengan kerja  kita dituntut memiliki tanggung jawab penuh terhadap pemberi amanah, dan amanah   adalah nilai kepercayaan.
6.    Kerja adalah pelayanan, dengan konsep itu maka kita menyadari bahwa hasil kerja kita adalah sesuatu yang  akan diberikan  kepada orang lain dan mereka membutuhkannya.
7.    Kerja adalah seni, kerja tidak  asal kerja tetapi kerja apa pun yang dilakukan  memerlukan sentuhan-sentuhan tertentu agar memiliki nilai kualitas dan dapat memuaskan pemakai.
8.    Kerja adalah ibadah,  senantiasa hasil kerja  tidak semata diukur dengan nilai materi tetapi kita meyakini bahwa Tuhan pun akan memberi nilai pahala dalam segala upaya  yang dilakukan dengan benar dan memperoleh ridhoi-Nya.
Dengan delapan konsep itu Ali bekerjanya sangat enjoy dan ia menikmatinya (tanpa syarat). Sehingga apa yang dapat dimiliki, yah nikmatilah.
Ali menuturkan lebih lanjut bahwa hidup itu harus maju secara bertahap (step by step). Jika berat badan dia naik 2 kg dalam satu bulan maka dia akan membiarkannya. Tetapi bila ia mengalami kenaikan berat badan 10 kg dalam satu hari maka dia akan panik dan segera memeriksakan diri pada dokter.  Kewajaran dan bertahap adalah pola pikir  yang realistik. Ali juga percaya pada teori menanam benih, jika kita menanam benih jagung 100 biji kemudian yang jadi 50 pohon jangan katakan itu tidak adil, tapi itulah kehidupan.
Mila dan Ali adalah dua karyawan/ti yang menikmati hidup sebagaimana adanya. Mereka dapat  hidup bahagia dan sangat menikmati hidup tanpa memberi syarat. Di lingkungan kita, kami percaya banyak karyawan/ti yang hidup seperti Mila dan Ali. Sekalipun tidak menutup kemungkinan diantara kita ada yang berpikiran, seperti: 1). Seandainya saya punya pekerjaan yang cocok dengan hasil yang layak saya pasti bersedia bekerja keras. 2). Seandainya kenaikan gaji saya tahun kemarin sekian persen mungkin saya akan semangat dalam bekerja. 3). Promosikan dulu dong saya, agar saya dapat disiplin dalam bekerja. 4). Seandainya perkawinan saya baik dan dapat hidup dengan romantis, tentu saya akan bersikap baik terhadap suami/istri. 5). Seandainya suami saya seorang Presiden Direktur tentu  saya tidak tinggal di tempat ini, dst.
Itu adalah  pola pikir  yang ingin  menikmati hidup tetapi bersyarat. Kita bisa menyebutnya, itu  "membalikan logika." Padahal sesungguhnya kita dapat menikmati hidup tanpa harus memberi syarat terlebih dahulu. Bersikaplah hidup semisal seperti Mila dan Ali yang memperoleh kebahagian dan dapat menikmati hidup tanpa syarat, itu lebih mudah, dan sesungguhnya itulah kebahagian yang nyata.
Hikmah yang dapat diambil dari sisi kehidupan Mila dan Ali adalah:
1.    Manusia pada dasarnya dapat berubah, lain dulu lain sekarang. Fisik, jiwa, wawasan, pola pikir semuanya dapat berubah.
2.    Untuk mendapatkan hasil sebagaimana yang kita inginkan harus ada tahapan (step by step).
3.    Nikmati apa yang kita dapatkan hari ini.. Gunakan mangkok, piring dan gelas kesayangan  untuk menyajikan makanan-minuman sehari-hari.
4.    Jalani kehidupan hari ini dengan baik maka masa depan akan datang dengan sendirinya.
5.    Kita yakin dan percaya Tuhan Maha Kuasa, tapi jangan lupa menutup pintu sebelum tidur. (Disarikan Dari berbagai sumber)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar