Rabu, 14 Desember 2011

Cerpen: Wonder Women



Oleh: Yusnadi

Namaku Lily Indrawati tapi teman-temanku terutama yang cowok-cowok memanggilku Lily Kutilangdara (Kurus tinggi langsing dada rata).  Aku sama sekali tidak perduli dengan cowok-cowok yang memanggilku Lily Kutilangdara. Toh pada kenyataannya banyak diantara mereka yang suka sama aku, geer nih yeee….

Tubuhku memang kurus, tinggi, langsing dengan payudara kecil, hampir rata. Tapi kalau cowok-cowok itu mau jujur, body-ku tetap aduhai kok bagai gitar  spanyol. Itu bukan menurut aku tapi menurut salah satu cowok diantara mereka yang berkata jujur padaku. Dalam hati aku berkata, “ah dasar cowok, itu tidak aneh”.

Diantara ejekan mereka padaku, secara one by one mereka sering minta nomer hp-ku. Dan sepantasnya pula aku berikan nomerku kepada mereka dengan nomer yang sesungguhnya atau hanya asal nyebut nomer saja. Dan sudah pasti diantaranya ada yang berhasil menghubungiku dan pasti juga ada yang kecewa, aku hanya tersenyum dalam hati. Ternyata Lily Kutilangdara ini banyak juga penggemarnya.

Cowok-cowok yang serius meneleponku ada: Fadli, Djoko, Ubay, Benny, Roy dan Arga. Semua identitas mereka sudah aku dapat. Fadli anak seorang guru, Djoko anak seorang tentara, Ubay anak mami yang selalu dimanja, bawaannya melebihi aku sebagai seorang wanita, alias banci. Benny anak seorang pedagang kelontong, Roy anak seorang bengkel mobil dan Arga preman di sebuah diskotik.

Yang pasti ngotot dan kecewa bila menghubungi aku adalah Fadli dan Arga karena  mereka kuberi nomer mati. Tapi entah darimana akhirnya Arga berhasil juga menghubungi aku. Sedangkan Fadli tidak seserius Arga dalam mencari aku untuk ngerumpi ria dan berbagi rasa. 

Karena Arga berhasil menghubungi aku maka akan aku buat ia, seakan kenal aku sebagai musibah. Dan berlaku bukan hanya buat Arga, bagi cowok-cowok yang lain pun sama.  Dengan mereka mengenal aku dan aku mengenal mereka lebih jauh maka aku akan mendapatkan keuntungan darinya, paling tidak dari Arga aku mendapatkan keuntungan parkir  dan masuk diskotik gratis. Sedangkan dari Fadli sudah tidak direken karena tidak berjuang sungguh-sungguh mendekati aku. Untuk Djoko, Ubay, Benny dan Roy aku sudah mendapatkan keuntungan, seperti:

Dari Djoko aku sudah mendapatkan keuntungan berupa keamanan, paling tidak aku bisa jual nama bapaknya sebagai seorang tentara. Dari Ubay aku mendapatkan uang lebih, karena Ubay suka royal ngajak makan ini dan itu. Jika aku malas  atau tidak sesuai dengan selera makannya maka aku minta mentahannya aja. Alias uangnya  saja aku minta.  Dari Benny aku sudah mendapatkan keuntungan berupa potongan harga bila belanja di toko kelontongnya.  Sedangkan dari Roy aku bisa service mobil gratis, paling tidak jasa bengkelnya aku tidak harus bayar, kecuali untuk suku cadangnya.

Bagi cowok-cowok yang suka menggoda aku, sudah aku manfaatkan jasanya secara bijak, sopan dan tidak berkesan arogan. He he …, boleh saja mereka bilang padaku dengan julukan kutilang dara. Kurus tinggi langsing dada rata. Tapi aku tetap maniiii…ssss khan, kulitku juga kuning langsat, rambutku indah seindah rambut sunsilk. Kepada cowok-cowok yang suka meledek aku dengan tidak jujur, akan aku taklukan secara lembut. Akulah si Wonder Women yang bertitel Kutilangdara.

Tapi sejujurnya pula aku katakan bahwa tidak semua cowok aku manfaatkan dengan “kekuatanku”. Kadang-kadang aku memanfaatkan mereka hanya untuk ngetes saja, seberapa besar dia perhatiannya padaku. Dan aku juga bisa menjajaki  seberapa lemah  ia terhadap wanita. Yang pasti aku tetap mengidamkan cowok yang jantan: gagah, tegas, berani, tampan dan baik hati.
Dengan lima kreteria itu  aku sudah tahu yang terbaik  adalah Arga. Sosok Arga orangnya gagah, tegas, tampan dan baik hati. Tapi tingkat keberaniannya aku nilai masih kurang. Sekalipun ia seorang preman dari sebuah diskotik yang tidak berkantong tebal namun sudah dapat meluluhkan aku si wonder women. Aku memang wanita tomboy tapi feminim, cuek tapi sopan, sedikit arogan tapi tetap lembut dan menginginkan cowok yang dapat melindungi. Cowok yang masuk dalam kriteria aku adalah Arga.

Arga sudah lulus aku tes. Semangat Arga dalam mencari tahu tentang aku patut aku hargai. Mulai dari tanya-tanya nomer telepon, curi pandang aku hingga mendatangi rumah aku. Mengamankan mobilku, mengantar aku dan mentraktir aku dengan selera yang sederhana. Tapi aku makhlum karena dia hanya preman diskotik, bukan cowok berkantong tebal.  Tapi sayang keberaniannya untuk menembak aku tak kunjung datang, apakah dia minder? Padahal sudah aku beri angin surga padanya. Semakin aku beri angin segar justru semakin minder dia.

Sebaliknya  pada diri akulah justru semakin berdebar-debar. Aku tunggu kata-kata indah dari Arga tak kunjung terucap. Aku semakin tidak sabar dan tidak tahan ingin kepastian darinya. Pada suatu saat dengan tarikan nafas panjang sebanyak dua kali,  kuucapkan setenang mungkin, aku berkata, “Arga setelah lama aku mengenal kamu, … eeeh kalau kamu jadi pacar aku mau engga,” kataku ketus tapi serius. Setelah mengatakan itu  plong dada ini terasa enteng. Café sederhana yang ada di jalan Way Halim, Bandar Lampung itu terasa sepi. Irama instrumentalia yang dimainkan terasa lembut di telinga. Mataku aku alihkan kesekeliling Café  sementara telingaku aku konsentrasikan untuk menunggu jawaban dari Arga.
“Ah Lily yang bener, kamu engga sedang ngetes aku kan?” jawab Arga seakan tidak percaya dengan ucapanku.
“Ya benarlah, apakah kamu merasa selama ini aku sering ngetes kamu”.
“Merasalah bahwa kamu sering ngetes aku, terutama saat-saat aku dikacungi kamu. Aku sebetulnya gengsi juga tapi apa boleh buat, aku turuti perintah kamu karena aku sayang kamu”.
“Lantas kenapa kamu tidak nembak aku?”
“Aku mau nembak kamu tapi malah kamu duluan yang nembak aku, kamu tidak sedang ngetes aku, kan?” tanyanya lagi.
“Tidak. Aku tidak sedang ngetes kamu, kamu sudah lulus. Kamu adalah pria yang paling tampan diantara yang lain,” kataku sejujurnya.
Dengan jawaban yang seutuhnya dari aku ini Arga sama sekali tidak bereaksi senang, bahagia atau menunjukan apa gitu padaku. Ia tetap tenang dengan senyum-senyum. Hal ini membuat aku gemas. Aku berdiri mendekat padanya; Aku pegang kepalanya, aku lepas topi yang dikenakannya, aku ngelus kedua pipinya dengan  tanganku dan … aku kecup keningnya, cup! Dan segera aku beranjak pergi dari hadapannya.

Aku pergi, eeh dia tidak mengejar aku. Paling tidak  harusnya ia menarik tanganku seperti di senitron-senitron tv itu. Dengan mengatakan, aku juga cinta kamu dan selanjutnya bla bla bla … hingga akhirnya masuk dalam hangatnya pelukan. Tapi itu tidak terjadi. Aku sebel, aku kecewa Arga sama sekali tidak romantis orangnya.

Aku pergi. Aku naik mobil. Aku tancap gas. Arga sama sekali tidak beranjak dari tempat duduknya.  Sampai di rumah aku nangis tersengguk-sengguk. Aku malu, aku malu, aku merasa malu sebagai wanita murahan. Aku benci Arga, aku benci Arga tapi aku cinta dia. Hingga jam dinding berdentang 12 kali, malam semakin larut. Aku masih tetap  menangis. Namun dalam kesedihan itu aku berpikir, aku yang merasa wonder women akhirnya manangis juga karena cinta.

Esoknya kutunggu telepon Arga tidak kontek juga, lusa barangkali ia akan kontek aku namun belum juga. Ah besok lusa barangkali kataku menghibur diri namun tidak juga.  Hingga akhirnya aku berkesimpulan, akan aku beri batas waktu 1 minggu, bila dalam 1 minggu tidak ada jawaban--berarti si worder women ini mengalami cinta bertepuk sebelah tangan.  Malu memang rasanya. Tapi aku adalah worder women, tidak boleh cengeng.

Ketika Dead line hampir habis, Arga bertandang ke rumahku tanpa dosa. Ia dengan tenang masuk ke teras rumahku. Aku sambut dengan dingin tanpa mengeluarkan kata-kata. “Lily kenapa kamu belum balas emailku?” tanyanya tiba-tiba.
“Email,” kataku kaget. “Aku tidak pernah email-an lewat hp. Emailku hanya ada di PC, ada apa dengan email?” tanyaku.
“Aku menunggu jawaban dari kamu?”
“Aku yang justru menunggu jawaban dari kamu?”
“Jawaban kamu sangat penting bagi kita?”
“Justru jawaban kamu  sangat penting bagi Kita?”
“Mana yang lebih penting jawaban aku atau jawaban kamu?”
“Bagi aku jawaban kamu sangat penting?”
“Bagi aku jawaban kamu lebih penting?” Akhirnya kami terdiam seribu bahasa.
Akhirnya aku yang bersuara terlebih dahulu, “Oke sekarang kita buka email, seberapa penting email kamu itu?”
“Setuju!”
Tertulislah email Arga di PC Lily  dengan kalimat sebagai berikut:

Lily Indrawati gadis manis yang tomboy tapi manis. Sementara aku adalah lelaki jantan yang berani, tegas dan tampan. Orang tua kita pasti ingin anaknya bahagia dunia akherat.  Oh ya setelah kamu kecup aku, kemudian pergi, datanglah temanku yang baru menikah, ia banyak cerita. Namun kita juga harus pandai memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya. Karena waktu sebagaimana kamu pernah bilang,  sekali datang ia tidak akan kembali lagi. Apakah hukum itu masih  berlaku, zaman sudah semakin tua, teknologi semakin canggih.  Bagaimana dengan novel favorit kamu. Saya perhatikan di rumah kamu banyak novel dan komik. Bagaimana  dengan cerita-cerita fiksi itu, setuju cerita itu?

“Jawaban apa yang harus aku berikan dengan kalimat seperti ini. Tidakah lebih penting jawaban kamu buat aku,” tegasku pada Arga.
Eest … belum selesai. Coba kamu ikuti rumus dalam cacatan dibawahnya,”  jelas Arga dengan lembut padaku. Dan dalam note tertulis sebagai berikut:

Tolong “bold and underline”  kata-kata ke: 1, 9, 22, 38, 49, 55, 65, 81, 96

Lily Indrawati gadis manis yang tomboy dan kutilangdara. Sementara aku adalah lelaki jantan yang berani, tegas dan tampan. Orang tua kita pasti ingin anaknya bahagia dunia akherat.  Oya, setelah kamu kecup aku, kemudian pergi, datanglah temanku yang baru menikah, ia banyak cerita. Namun kita juga harus pandai memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya. Karena waktu sebagaimana kamu pernah bilang sekali datang ia tidak akan kembali lagi. Apakah hukum itu masih  berlaku, zaman sudah semakin tua, teknologi semakin canggih.  Bagaimana dengan novel favorit kamu. Saya perhatikan dirumah kamu banyak novel dan komik. Bagaimana  dengan cerita-cerita fiksi itu, setuju?

Hingga terbacalah kalimat tak terduga oleh Lily:  “Lily indrawati aku ingin menikah dengan kamu, apakah kamu setuju?

“Arga!” hentak Lily kaget, “apakah kamu serius?”
“Ya aku serius, mana yang lebih penting jawaban aku atau jawaban kamu?”
“Pertanyaan kamu berat, beri aku waktu satu minggu lagi, okey?”
Okey, sayang!”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar